Salah satu kutipan novel Bumi Manusia mengatakan bahwa “Pelajar harus sudah adil semenjak dalam pikirannya”. Hal ini pula yang seyogyanya ada dalam diri mahasiswa. Seorang mahasiswa yang kian meranjak dewasa muda diharapkan dapat bersikap idealis dalam segala tindakannya. Idealis dapat berupa sebuah tindakan nyata atau pun pikiran positif, termasuk menyikapi munculnya isu-isu yang kini berkembang di negeri ini dengan bijaksana.
Seiring munculnya isu-isu yang penyelesaian masih belum pasti, saya sebagai mahasiswa pun sepintas berpikiran skeptic, yang dapat diartikan bahwa hanya ada sedikit harapan yang baik yang bisa saya percayakan kepada para penguasa negeri ini. Mengapa demikian, sebab masalah-masalah yang terjadi tidak kunjung ada penyelesaiannya, bahkan semakin menjadi, salah satunya merajalelanya tindakan korupsi. Tidak hanya itu, kasus-kasus kekerasan antar suku ataupun adanya isu adu domba antar agama membuat saya bingung, apa yang sebenarnya terjadi. Apakah ini adalah tindakan skenario dari para penguasa untuk mengalihkan kasus yang sangat penting seperti korupsi, ataukah sebenarnya ada sekelompok golongan tertentu yang ingin memecahkan persatuan NKRI ini??
Menyikapi hal tersebut, mengajarkan kita termasuk saya sebagai seorang pelajar untuk dapat berpikir untuk mencari tahu kebenaran, sebelum mendapatkan kesimpulan yang terkadang menyakiti perasaan orang lain. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan dan pembelajaran yang cukup dalam menyikapi isu-isu atau pun kejadian yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Seperti halnya tujuan pembelajaran dalam Humanistic studies, bahwa kita belajar to know, to do, to be, and to live together. Dengan demikian, akan tercipatanya lingkungan yang harmonis dan kondusif antar umat manusia.
Berbicara lingkungan yang harmonis, dibutuhkan kerja sama yang solid antar umat manusia. Seperti halnya negeri ini yang memiliki berbagai keanekaragaman. Mulai dari suku, agama, ras, dan kebudayaan yang memerlukan rasa tenggang rasa dan saling mengahrgai satu sama lain. Jujur, saya sangat tertarik untuk membicarakan hal ini. Tapi, ketika pertama kali mengikuti mata kuliah Humanistic Studies yang identik dengan kehidupan kemanusian dan berbagai macam hal di dalamnya, membuat saya memang harus banyak belajar lagi, karena ternyata pengetahuan saya mengenai hal ini sedikit sekali.
Pembelajaran awal dalam mata kuliah Humanistic studies lebih banyak membicarakan hal-hal yang berkaitan mengenai agama dan budaya. Saya berharap dalam mata kuliah ini, saya dapat benar-benar mempelajari apa yang ada di dalamnya, karena mata kuliah ini sangat penting. Bagaimana kita bisa membuat sebuah perbedaan itu menjadi sebuah hubungan yang meningkatkan rasa nasionalisme kita kepada bangsa ini tanpa melihat dari mana asalnya. Salah satu nya dapat dilakukan dalam lingkungan yang dekat terlebih dahulu, yaitu dengan tetap saling menghargai antar umat beragama di lingkungan kampus. Hal terpenting adalah bahwa kita mempunyai satu visi yang sama untuk menjadikan pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik kedepannnya. Begitu pula dalam hal kebudayaan, semoga saya dan teman-teman bisa saling mempelajari satu sama lain mengenai budaya yang ada di Indonesia, bukan hanya sekedar bentuk atraksi dari budaya tersebut, melainkan nilai esensial dari suatu budaya yang berhubungan dengan tingkah laku ataupun kebiasaan manusia di suatu daerah. Dengan demikian, semakin memperluas pengetahuan dan pembelajaran kita terhadap negeri ini.

1 komentar:
Good posting
Point yang saya dapatkan dari esai ini adalah seruan untuk menghargai perbedaan dan dibutuhkan kerjasama yang solid. Seruan seperti ini telah sering dilakukan oleh para politisi, agamawan, pemerintah. Akan tetapi, sejauh ini seruan hanyalah terhenti pada seruan. Tidak ada dampak yang cukup berarti. Penghargaam terhadap perbedaan hanyalah sekedar wacana, tapi selalu menghadapi problem yang pelik ketika hendak diterapkan. Mengapa ini bisa terjadi?
Posting Komentar