Rabu, 02 November 2011

Umi Salamah_B3_IE 3


Identitas  Menjadikan sebuah Perbedaan

Identitas berasal dari bahasa Inggris, yaitu Identity yang diartikan sebagai ciri, tanda, atau jati diri  seseorang .  Identitas ini digunakan oleh kebanyakan orang untuk mencirikan khusus pribadinya berbeda dengan  orang lain. Identitas juga dijadikan seseorang sebagai acuan dalam tindakan. Memiliki sebuah identitas merupakan hak yang dimiliki setiap orang. Identitas dapat muncul dari diri sendiri maupun orang lain, karena sebuah perbedaan merupakan hal yang berbeda dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda.
Nama adalah salah satu identitas yang dimiliki seseorang, dari nama orang terkadang memiliki banyak ciri khas diri. Mengapa demikian? Karena orang-orang yang belum mengenal kita mereka sering kali menebak atau dapat dikatakan menjudge seperti apa diri kita. Sebagai contoh, orang-orang yang diberi nama yang mengandung unsur  bahasa arab, sebut saja Muhammad. Nama Muhammad menjadikan sebagian orang tahu, bahwa seseorang tersebut beragama isalam dan memiliki tingkah laku yang baik. Contoh lainnya adalah sebuah marga, biasanya orang yang memiliki marga seperti sihombing akan lebih mudah ditebak bahwa dia adalah orang batak. Begitu pula dari nama dapat timbul identitas agama seseorang. Misalnya Umi Salamah, sebagian orang dapat menilai bahwa saya adalah orang islam. Tapi, terkadang timbul juga perkiraan yang tidak tepat antara nama seseorang dengan kepercayaan yang dianut.
 Selain nama, identitas lainnya yang dapat timbul dari perkiraan orang lain adalah cara berbicara. Orang secara spontant terkadang menebak bahwa seseorang adalah orang Sumatera ketika melihat gaya bicara, misalnya gaya bicara yang tegas, langsung, dan sedikit tidak lembut adalah orang Sumatera.  Padahal, belum tentu semua orang yang berbicara tegas adalah orang sumatera, dan sebaliknya orang yang ramah dan lembut dalam bersikap adalah orang Jawa.
Nama dan gaya berbicara adalah segelintir kecil timbulnya sebuah identitas. Masih banyak lagi hal yang bisa dijadikan identitas atau ciri pribadi seseorang, salah satunya sifat, wajah, dll. Saya seringkali diperkirakan orang lain adalah orang Sunda, padahal saya adalah orang Palembang. Hal ini mungkin karena saya berkulit putih, dan kadang-kadang orang yang belum mengenal saya secara dalam seringkali menebak saya kalem atau pun pendiam. Padahal disisi lain banyak orang yang mengatakan bahwa saya bawel. Dua sudut pandang yang berbeda inilah yang muncul dalam kepribadian seseorang.
Adanya sebuah identitas tersebut dapat mempengaruhi tingkah laku  atau kebiasaan seseorang sehari-hari. Sebut saja saya sendiri saya bangga disebut orang sumatera hanya karena saya suka makanan yang pedas. Berdasarkan pengalaman yang dialami, ketika saya memakan makannan pedas, pasti ada beberapa teman saya yang bicara “Ya, wajarlah orang sumatera suka pedas”. Padahal jika dicari tahu, tidak semua orang Sumatera menyukai makanan pedas. Sebagai contoh lainnya adalah teman saya berasal dari jawa, tapi seringkali dia disebut orang batak dan beragama islam karena cara berbicara dan mukanya yang dapat dikatakan seperti garang. Stereotype bahwa orang jawa lembut pun tidak dapat dikatakan sebbagai hasil yang mutlak, karena setiapp orang memiilki karakter masing-masing yang tidak dapat diatur oleh orang lain.
Dari beberapa contoh diatas, dapat dikatakan bahwa sebuah identitas timbul berdasarkan sudut pandang dan pengetahuan masing-masing orang menilai. Sebuah identitas tidak meluluh mencerminkan yang sebenarnya dari pribadi seseorang. tapi memang alangkah baiknya kita memiliki sebuah identitas yang membedakan kita dengan orang lain, salah satunya adalah nama. Dari nama pula dapat timbul berbagai identitas lainnya. Jadi, apapun sudut pandang seseorang mengenai identitas diri kita, hendaknya kita dapat menajdi diri sendiri dengan karakter yang kuat yang kita miliki dan diri kita sendiri pun paham akan diri sendiri, dan mencoba lebih mencari tahu apakah tebakan kita terhadap identity seseorang benar adanya dan dapat digeneralkan.





                                                                                                                                                                                                                                                                        Umi Salamah
                                                                                                               2010110006
                                                                                                           Section B        
Math Department
Humasitic Studies


Rabu, 05 Oktober 2011

Umi Salamah?? Maksudnya???
Umi Salamah, Umi Salamah, tak ada respon dari diri ini, ungkap mamaku. Cerita ini sempat diceritakan mama ku ketika saya sudah bosan dengan pertanyaan orang-orang. “kamu dipanggil bela, tapi nama lengkap kamu Umi Salamah, dari mana asalnya nama bela?” akhirnya aku bertanya kepada mama ku akan pertanyaan orang-orang kepada diri ini.
Awalnya mamaku cerita bahwa ketika pertama kali saya masuk sekolah, saya  tidak tahu bahwa terdaftar sebagai nama Umi Salamah. Guru dikelas pun mulai memanggil satu persatu nama siswanya, tibalah giliran Umi Salamah, Umi Salamah,,,,?? Umi Salamah???,, tiba-tiba mamaku pun menghampiri masuk ke dalam kelas, dan menjelaskan kepadaku bahwa Umi Salamah adalah nama kepanjanganku, begitulah singkatnya.
Akhirnya ketika SMP aku tahu bahwa nama Umi Salamah adalah pemberian dari kakekku, hal ini saya ketahui dari orang tua dan bibi saya.  Singkat ceritanya, saya adalah orang Palembang yang lahir di Depok, dan biasanya memang yang memberi nama dari anak-anak orangtuaku dan pamaku adalah kakek. Kakek saya adalah seorang Kiyai, sehingga mungkin kakek saya memberi nama cucunya ada makna tersendiri dan merupakan sebuah doa. Sebenarnya saya belum sempat menanyakan secara langsung kepada kakek kenapa aku diberi nama seperti itu, karena beliau sudah meninggal ketika aku masih berumur 10 tahun.
Lain halnya dengan nama Bela, awalnya saya mau dikasih nama Siti Nurbaya sama nenekku, karena pada saat itu lagi musimnya film siti nurbaya -__-,, tapi kalau dari mama sih maunya nama saya itu ada Nur Bela, sedangkan ayah saya percayakan kepada  ayahnya. Nur bela, Nur itu artinya cahaya, sedangkan bela  mamaku dari nama temannya atau nama seorang bidan. Akte kelahiran saya ketika itu diurus di Palembang, apa mungkin karena salah komunikasi atau apa akhirnya yang awalnya mau ada Nur Bela sebelum Umi Salamah, hanya tertera Umi Salamah saja di akte. Hal demikian tidak mengubah mamaku untuk tetap memanggilku bela, dan akhirnya saya terkenal dengan panggilan bela dilingkungan masa kecil sebelum sekolah, tetangga dekat, dan keluarga. Jarang sekali, teman sekolah yang memanggil bela, kebanyakan umi, umai, dsb nya.
Ya menurut saya mau apapun panggilannya, saya meyakini bahwa kakek saya atau orang tua saya memiliki penilaian dan makna tersendiri memberi nama saya seperti itu. Seperti halnya nama kakak saya yaitu, M. Nuruddin Araniri yang pastinya juga memiliki makna dan doa.
Seiring meranjaknya usia ini, aku pun mulai mencari sendiri arti nama saya, makna apa yang ada didalamnya. Umi dalam bahasa arab diartikan sebagai Ibu, sedangkan salamah adalah sepertinya hal nya dengan salam, selamat atau sejahtera. Selain itu, saya juga menemukan dari beberapa buku atau pun browsing internet, bahwa Umi Salamah adalah Istri Rasulullah SAW. Umi Salamah adalah seorang perempuan yang ikut berperan jihad untuk islam. Salah satunya dalam perang badar. Umi Salamah dinilai sebagai wanita yang cerdas, bijaksana, cantik, setia kepada suaminya, tetapi Umi Salamah juga adalah seorang yang pencemburu.hal ini pun hampir sama dengan diri saya :D, untuk kata bela pun saya artikan sendiri adalah seorang perempuan yang ceria,, belaaaaaaaa,,, seperti salah satu nada dasar lagu, La,,,, sebuah nyanyian yang ceria dan menyenangkan,, :D.
Refleksi kepada saya sendiri, bahwa kata umi inilah menurut saya memiliki makna yang mendalam, Umi yang artinya ibu dalam bahasa arab menajdi acuan bagi saya, bahwa saya di doakan dan diharapkan untuk menjadi seorang ibu yang hebat bagi anak-anaknya dan sekelilingnya. Apalagi memang saya adalah orang yang suka anak kecil dan penyayang, semoga makna kata Umi Salamah ini mendoakan saya untuk menjadi seorang wanita atau pun ibu yang bisa mendamaikan anak-anaknya dan orang sekelilingnya, serta menjadi seorang wanita yang pemberani, bijaksana, dan cerdas,, amin,, J
Oleh karena itu, saya sangat bersyukur diberi nama Umi Salamah,
Thank you so much for my big family.. ^_^

Umi Salamah
2010110006
Math Department

Rabu, 28 September 2011

Pentingnya "Humanistic Studies"


Salah satu kutipan novel Bumi Manusia mengatakan bahwa “Pelajar  harus sudah adil semenjak dalam pikirannya”. Hal ini pula yang seyogyanya ada dalam diri mahasiswa. Seorang mahasiswa yang kian meranjak dewasa muda diharapkan dapat bersikap idealis dalam segala tindakannya. Idealis dapat berupa sebuah tindakan nyata atau pun pikiran positif, termasuk menyikapi munculnya isu-isu yang kini berkembang di negeri ini dengan bijaksana.
Seiring munculnya isu-isu yang penyelesaian masih belum  pasti, saya sebagai mahasiswa pun sepintas berpikiran skeptic, yang dapat diartikan bahwa hanya ada sedikit harapan yang baik yang bisa saya percayakan kepada para penguasa negeri ini. Mengapa demikian, sebab masalah-masalah yang terjadi tidak kunjung ada penyelesaiannya, bahkan semakin menjadi, salah satunya merajalelanya tindakan korupsi. Tidak hanya itu, kasus-kasus kekerasan antar suku ataupun adanya isu adu domba antar agama membuat saya bingung, apa yang sebenarnya terjadi. Apakah ini adalah tindakan skenario dari para penguasa untuk mengalihkan  kasus yang sangat penting seperti korupsi, ataukah sebenarnya ada sekelompok golongan tertentu yang ingin memecahkan persatuan NKRI ini??
Menyikapi hal tersebut, mengajarkan kita termasuk saya sebagai seorang pelajar untuk dapat berpikir untuk mencari tahu kebenaran, sebelum mendapatkan kesimpulan yang terkadang menyakiti perasaan orang lain. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan dan pembelajaran yang cukup dalam menyikapi isu-isu atau pun kejadian yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Seperti halnya tujuan pembelajaran dalam Humanistic studies, bahwa kita belajar to know, to do, to be, and to live together. Dengan demikian, akan tercipatanya lingkungan yang harmonis dan kondusif antar umat manusia.
Berbicara lingkungan yang harmonis, dibutuhkan kerja sama yang solid antar umat manusia. Seperti halnya negeri ini yang memiliki berbagai keanekaragaman. Mulai dari suku, agama, ras, dan kebudayaan yang memerlukan rasa tenggang rasa dan saling mengahrgai satu sama lain.  Jujur, saya sangat tertarik untuk membicarakan hal ini. Tapi, ketika pertama kali mengikuti mata kuliah Humanistic Studies yang identik dengan kehidupan kemanusian dan berbagai macam hal di  dalamnya, membuat saya memang harus banyak belajar lagi, karena ternyata pengetahuan saya mengenai hal ini sedikit sekali.
                Pembelajaran awal dalam mata kuliah Humanistic studies lebih banyak membicarakan hal-hal yang berkaitan mengenai agama dan budaya. Saya berharap dalam mata kuliah ini, saya dapat benar-benar mempelajari apa yang ada di dalamnya, karena mata kuliah ini sangat penting. Bagaimana kita bisa membuat sebuah perbedaan itu menjadi sebuah hubungan yang meningkatkan rasa nasionalisme kita kepada bangsa ini tanpa melihat dari mana asalnya. Salah satu nya dapat dilakukan dalam lingkungan yang dekat terlebih dahulu, yaitu dengan tetap saling menghargai antar umat beragama di lingkungan kampus. Hal terpenting adalah bahwa kita mempunyai satu visi yang sama untuk menjadikan pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik kedepannnya. Begitu pula dalam hal kebudayaan, semoga saya dan teman-teman bisa saling mempelajari satu sama lain mengenai budaya yang ada di Indonesia, bukan hanya sekedar bentuk atraksi dari budaya tersebut, melainkan nilai esensial dari suatu budaya yang berhubungan dengan tingkah laku ataupun kebiasaan manusia di suatu daerah. Dengan demikian, semakin memperluas pengetahuan dan pembelajaran kita terhadap negeri ini.